Deherba.com | Situs Herbal No. 1 Indonesia
hubungi kami

Kami buka kembali tanggal 3 Juli 2017. Pembelian produk tetap bisa dilakukan melalui Lazada.co.id. atau Tokopedia.com. Terima kasih untuk pengertiannya.
Penyebab Jantung Koroner Penyebab Jantung Koroner

Kenali Penyebab dan Gejala Jantung Koroner Sebelum Terlambat!

Penyakit jantung koroner bukan lagi penyakit khusus orang tua. Bahkan Anda yang masih berusia 30-an pun sekarang sudah terancam mengalami penyakit ini. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui penyebab dan gejala jantung koroner agar Anda bisa mencegahnya sebelum terlambat.

Penyakit jantung koroner adalah istilah umum yang berarti ada penumpukan plak di arteri jantung dan bisa memicu serangan jantung. Karena itu, penyakit ini juga sering disebut penyakit arteri koroner.

Pada kasus korner arteri, plak awalnya membentuk dalam dinding arteri koroner sehingga membatasi aliran darah menuju otot jantung. Kondisi ini juga disebut ‘iskemia’. Ini bisa terus berlangsung dalam waktu lama, terus menyempitkan arteri koroner dan semakin membatasi aliran darah menuju bagian-bagian otot. Atau bisa berlangsung mendadak karena plak serta bentukan trombus atau gumpalan darah tiba-tiba pecah.

APA ITU ISKEMIA?


Iskemia pada jantung terjadi sewaktu plak dan zat berlemak sangat menyempitkan bagian dalam arteri, sehingga arteri tidak mampu mengalirkan cukup darah beroksigen menuju jantung. Hal ini dapat memicu serangan jantung—dengan atau tanpa gejala nyeri dada atau gejala-gejala lain.

Iskemia sering kali terjadi pada waktu: olahraga atau aktivitas fisik berat lain; makan; terlalu bersemangat atau stres; dan kedinginan.

Penyakit jantung koroner dapat semakin memburuk hingga mencapai titik dimana iskemia bisa terjadi bahkan sewaktu Anda sedang beristirahat. Jika ini yang Anda alami, segeralah hubungi dokter atau minta tolong diantarkan ke rumah sakit terdekat.

Bagaimana Bisa Terjadi Penyakit Jantung Koroner?

Sejak dari usia muda, plak bisa mulai mengalir ke dinding-dinding pembuluh darah. Seraya Anda bertambah tua, plak-plak juga semakin menumpuk. Hal ini menyebabkan peradangan pada dinding pembuluh darah lalu memperbesar kemungkinan terjadinya penggumpalan darah, bahkan serangan jantung.

Plak-plak tersebut membuat bagian dalam pembuluh darah jadi lengket. Kemudian, benda-benda tubuh lain, misalnya sel-sel inflamasi, lipoprotein, dan kalsium, mengalir dalam aliran darah lalu bercampur dengan plak tersebut.

Seraya semakin banyak sel-sel inflamasi yang bercampur, sehingga plak—bersama kolesterol—akan bertambah lalu mendorong dinding arteri ke luar dan tumbuh ke dalam. Hal ini membuat pembuluh darah jadi semakin sempit.

Arteri koroner adalah pembuluh-pembuluh yang mengalirkan darah berisi oksigen menuju otot jantung. Disebut ‘koroner’ (merujuk pada ‘korona’, bahasa Latin untuk mahkota) karena mereka mengelilingi jantung seperti mahkota mengelilingi kepala.

Pada akhirnya, arteri koroner yang sudah menyempit itu mungkin menciptakan pembuluh-pembuluh baru yang terbentuk di sekitar sumbatan agar dapat terus mengalirkan darah ke jantung. Akan tetapi, pembuluh-pembuluh baru tersebut mungkin tidak sanggup membawa cukup darah beroksigen ke jantung apabila Anda sedang olahraga atau stres berat.

Adakalanya sewaktu plak pecah, gumpalan-gumpalan darah dari plak tersebut bisa menyumbat aliran darah menuju otot jantung. Hal ini dapat menyebabkan serangan jantung. Tetapi kalau gumpalan darah mengalir ke pembuluh darah menuju otak lalu menyumbatnya, maka Anda dapat mengalami serangan stroke.

Setelah memahami bagaimana proses terjadinya penyakit jantung koroner, sekarang mari kita ketahui apa saja yang mendorong terbentuknya penumpukan plak di arteri koroner. Singkatnya, apa saja penyebab jantung koroner yang harus dihindari atau diatasi.

Apa Saja Penyebab Jantung Koroner?

Penyebab jantung koroner dapat dikenali dari faktor-faktor risiko yang dimiliki oleh setiap calon pasien. Umumnya faktor-faktor risiko tersebut mungkin terdiri dari kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, riwayat kesehatan keluarga, diabetes, merokok, usia tua, dan obesitas.

Berdasarkan Heart.ORG, ada setidaknya tiga faktor risiko penyebab jantung koroner yang tidak dapat dikendalikan, yaitu antara lain:

  • Usia tua—kebanyakan pasien jantung koroner adalah lansia berusia 65 atau lebih.
  • Jenis kelamin—pria lebih riskan mengalami serangan jantung dibandingkan wanita, dan mereka cenderung mengalaminya di usia lebih muda daripada wanita.
  • Keturunan—anak dari orang tua penderita penyakit jantung lebih tinggi risikonya.

Faktor-faktor di atas tidak dengan sendirinya mengakibatkan penumpukan plak di arteri koroner. Masalah di jantung ini lebih disebabkan oleh gabungan antara beberapa faktor sekaligus, termasuk faktor-faktor risiko yang sebenarnya bisa dicegah. Beberapa faktor risiko penyebab jantung koroner yang dapat Anda hindari, atasi, atau kendalikan antara lain:

  • Merokok—ini adalah salah satu penyebab utama kematian pada pasien jantung koroner. Orang yang tidak merokok, tetapi menghirup asapnya, juga riskan mengembangkan penyakit jantung.
  • Kolesterol tinggi—memiliki angka kolesterol ‘jahat’ LDL yang tinggi, angka kolesterol ‘baik’ HDL yang rendah, serta angka trigliserida yang tinggi dapat memicu berbagai masalah jantung.
  • Tekanan darah tinggi—darah tinggi membuat jantung bekerja lebih keras sehingga ototnya dapat menebal dan menjadi kaku. Bila digabungkan dengan faktor-faktor risikonya, mereka bisa menjadi penyebab penyakit jantung koroner.
  • Kurang aktif bergerak—sebenarnya jika Anda aktif bergerak, maka kadar kolesterol, tekanan darah, gula darah, dan berat badan bisa dikendalikan dengan baik.
  • Obesitas dan kegemukan—penumpukan lemak tubuh, khususnya di bagian pinggang, dapat memicu munculnya masalah-masalah pada jantung.
  • Diabetes melitus—setidaknya 68 persen pasien diabetes usia 65 ke atas meninggal akibat penyakit jantung.
  • Stres—ada sejumlah dugaan bahwa stres dapat menjadi salah satu penyebab jantung koroner, karena orang yang stres biasanya sering merokok dan makan sembarangan.
  • Alkohol—konsumsi yang berlebihan bisa memicu darah tinggi, trigliserida tinggi, obesitas, dan ketidakteraturan detak jantung.
  • Pola makan dan nutrisi—apa yang Anda makan (dan seberapa banyak) bisa memengaruhi faktor-faktor risiko penyebab jantung koroner lain—kolesterol, tekanan darah, diabetes, dan kegemukan.

Bisa disimpulkan bahwa meskipun ada faktor-faktor risiko yang tidak dapat dicegah, tetapi ada jauh lebih banyak yang dapat dicegah. Jadi walaupun orang tua Anda punya penyakit ini, bukan berarti Anda tidak bisa mengelak darinya.

Edward A. Fisher, M.D., Ph.D., M.P.H., seorang profesor kedokteran kardiovaskular, mengatakan bahwa gaya hidup sehat sejak muda benar-benar bermanfaat seumur hidup. Menerapkan pola makan sehat dan aktif bergerak diyakini sangat berperan dalam mencegah berbagai penyebab jantung koroner.

Apa Saja Gejala-Gejala Jantung Koroner?

Meskipun penyakit ini dapat dicegah, sayangnya banyak orang yang tidak sanggup mencegahnya—sering kali karena mereka kurang berupaya menerapkan gaya hidup sehat. Jika sudah terlanjur terbentuk penumpukan plak di arteri koroner, lama-kelamaan mungkin muncul gejala-gejala yang mengganggu.

Menurut NIH, Salah satu gejala jantung koroner yang paling banyak dirasakan adalah ‘angina’. Angina adalah rasa nyeri atau perasaan tidak nyaman di dada yang terjadi apabila suatu bagian jantung otot kurang mendapat pasokan darah beroksigen.

Angina mungkin terasa seperti ada tekanan atau remasan di dada. Anda juga bisa merasakannya di pundak, lengan, leher, rangan, atau punggung. Nyeri angina bahkan mungkin terasa mirip dengan gejala sakit maag.

Rasa nyeri akibat jantung koroner biasanya semakin parah ketika beraktivitas dan mereda setelah beristirahat. Stres emosional juga dapat memicu kemunculan rasa nyeri tersebut.

Selain angina, gejala jantung koroner lain yang perlu diwaspadai adalah sesak napas. Gejala ini terjadi apaila penyakit jantung koroner menyebabkan gagal jantung. Ketika mengalami gagal jantung, jantung sudah tidak dapat mengalirkan cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Akibatnya cairan menumpuk di paru-paru dan membuat Anda sesak napas.

Gejala-gejala jantung koroner dapat berbeda-beda pada masing-masing orang. Akan tetapi biasanya gejala ini akan semakin memburuk seraya penumpukan plak terus menyempitkan arteri koroner.

Gejala Penyakit Jantung yang Berkaitan dengan Jantung Koroner

Ada orang yang memiliki penyakit jantung koroner tetapi tidak merasakan tanda atau gejala apa pun. Penyakit ini mungkin akan terus berkembang secara senyap tak terdeteksi hingga akhirnya orang tersebut mengalami tanda atau gejala serangan jantung, gagal jantung, atau aritmia (ketidakteraturan detak jantung).

  • Serangan Jantung

    Serangan jantung terjadi bila aliran darah beroksigen menuju bagian otot jantung terputus. Hal ini dapat dialami jika ada suatu area plak di arteri koroner yang pecah. Gejala serangan jantung yang paling sering dirasakan adalah nyeri atau ketidaknyamanan di dada.

    Ketidaknyamanan tersebut mungkin terasa seperti ada tekanan, remasan, atau rasa sakit yang ringan atau berat. Rasa nyeri akibat serangan jantung kadang-kadang bisa mirip dengan gejala sakit maag atau heartburn.

    Memang mirip seperti angina, tetapi gejala serangan jantung biasanya berlangsung lebih lama dan tidak membaik meski sudah beristirahat. Keluhan-keluhan lain yang perlu diwaspadai termasuk: ketidaknyamanan di tubuh bagian atas—lengan, punggung, leher, rahang, atau perut atas; sesak napas; mual, muntah, pusing, pingsan, keringat dingin; gangguan tidur, kelelahan, atau kurang bertenaga.

  • Gagal Jantung

    Penyakit jantung koroner juga dapat menyebabkan gagal jantung—dimana jantung tidak mampu memompa darah yang mencukupi kebutuhan tubuh. Gejala umum dari gagal jantung antara lain: sesak napas; kelelahan; bengkak di pergelangan kaki, kaki, tungkai, perut, dan pembuluh darah di leher.

    Keluhan-keluhan tersebut muncul akibat penumpukan cairan di tubuh. Sewaktu gejala tersebut mulai timbul, Anda mungkin akan merasa lelah dan sulit bernapas setelah melakukan aktivitas seperti biasa, misalnya menaiki tangga.

  • Aritmia

    Ketika mengalami aritmia, Anda akan merasakan detak jantung berdetak lebih kencang atau lebih keras daripada biasanya. Beberapa orang menggambarkan aritmia seperti perasaan berdebar-debar di dada yang disebut ‘palpitasi’. Beberapa kasus aritmia bisa sebabkan jantung tiba-tiba berhenti berdetak yang berakibat fatal jika tidak ditangani dalam hitungan menit.

Bila sudah didiagnosis mengidap penyakit jantung koroner oleh dokter, sebaiknya Anda pelajari gejala-gejala jantung koroner yang mungkin dirasakan dan apa yang memicu kemunculannya. Segera hubungi dokter saat Anda mulai merasakan adanya gejala-gejala yang tidak biasa atau ketika keluhannya terasa semakin sering atau memburuk.

Namun jika Anda masih muda dan belum merasa gejala-gejala jantung koroner seperti di atas, jangan pikir, “Saya masih terlalu muda untuk mulai khawatir tentang ini.” Cara Anda hidup sekarang berdampak pada bagaimana kesehatan jantung di masa depan. Bahkan mereka yang berusia 30-an pun bisa mengidap penyakit ini apabila tidak berusaha mencegah penyakit jantung.

Bagi Anda yang ingin tahu lebih banyak mengenai cara menjaga kesehatan jantung demi menghindari penyebab-penyebab jantung koroner, kami sediakan artikel yang memerincinya sesuai usia Anda: Panduan Lengkap Cara Mencegah Penyakit Jantung.

addfriends en 130
Penting: Form komentar di bawah ini hanya digunakan untuk berbagi informasi antar pengunjung situs web ini. Apabila Anda ingin menghubungi kami silakan kunjungi halaman hotline kami »

Log In or Register