Kenali Sejak Dini 11 Gejala Leukemia pada Anak


By Nurul Kuntarti

Kanker darah atau dikenal dengan Leukemia adalah jenis kanker yang paling banyak mengancam anak-anak. Masalahnya, gejala leukemia pada anak cenderung sangat samar dan menyerupai gejala penyakit ringan biasa. Padahal dengan memahami lebih baik ciri awal leukemia anak, kita bisa segera melakukan langkah medis awal. Dan mungkin Leukemia pada anak bisa untuk sembuh.

Masalahnya memang leukemia cenderung sulit untuk dikenali. Banyak gejala yang terbilang serupa dengan gejala penyakit ringan yang sehari-hari kerap menyerang anak-anak. Ini mempersulit diagnosa awal terhadap keberadaan leukemia pada anak. Ini pula yang diduga menjadi penyebab banyak kasus leukemia yang lambat untuk terdiagnosa.

Apa Sebenarnya Leukemia?

Leukemia merupakan jenis penyakit kanker yang berkembang pada darah. Berbeda dengan kebanyakan jenis kanker yang berkembang dalam bentuk massa. Maka leukemia berkembang pada sel darah. Tidak ada massa yang terbentuk, tetapi di sini sel darah putih yang terbentuk akan diproduksi dalam kondisi abnormal dan memperbanyak diri dalam jumlah yang abnormal.

Inti kerusakan pada kasus leukemia terbentuk pada sumsum tulang belakang. Sumsum tulang belakang berfungsi memproduksi darah, termasuk di dalamnya sel darah putih. Ketika terjadi kanker, sel darah putih diproduksi lebih masif, tetapi dilepaskan dalam tubuh dalam kondisi belum cukup matang dan cacat.

Akibatnya, sel darah putih disfungsi ini memenuhi tubuh manusia. Sel darah putih disfungsi ini tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya sel darah putih pada sistem imunitas. Sebaliknya, sifatnya dapat agresif, merusak sel-sel darah sehat dan mengganggu sel-sel sumsum tulang belakang yang masih normal untuk dapat leluasa memproduksi sel darah putih sehat yang baru.

Leukemia termasuk jenis penyakit yang kemunculannya bersifat cukup random. Kasus tertinggi muncul pada usia di atas 55 tahun, meski tidak sedikit pula muncul pada usia produktif. Hanya saja, kasus yang tidak kalah tinggi justru muncul pada mereka dengan usia di bawah 15 tahun. Bahkan dinobatkan sebagai kasus kanker yang paling banyak diderita anak.

Belum dipahami betul mengapa anak-anak memiliki tingkat kasus yang lebih tinggi. Demikian pula dikatakan kemunculan gejala leukemia pada anak memiliki tingkat bertahan hidup yang lebih baik dari kasus serupa di usia dewasa.

Yang perlu dipahami adalah, untuk pasien leukemia dapat bertahan hidup diperlukan tindakan dan pemeriksaan medis sesegera mungkin. Salah satu kuncinya adalah dengan memastikan Anda dapat mengenali gejala leukemia ini pada anak Anda.

Kenapa Anak Mengalami Leukemia?


Dibandingkan jenis kanker lain, kanker leukemia adalah jenis yang paling banyak ditemukan pada anak-anak. Hingga kini belum dapat sepenuhnya dipahami bagaimana anak bisa menderita leukemia. Hanya ditemukan sejumlah fakta bahwa unsur genetik dapat mengambil peran dalam hal ini.

Beberapa kondisi dapat bersifat turunan dari orang tua dan leluhur. Tetapi sebagian besar dari kasus leukemia pada anak justru tidak berkaitan dengan unsur genetik. Sejumlah kegiatan mutasi karena unsur eksternal justru dapat berperan lebih besar mendorong terbentuknya leukemia.

Beberapa kondisi eksternal dan internal yang diyakini dapat mempengaruhi tingkat resiko seorang anak menderita leukemia adalah sebagai berikut.

  • Sejumlah unsur turunan seperti masalah down syndrome dan Li-Fraumeni syndrome
  • Masalah pada sistem imunitas
  • Masalah pada sistem imun tubuh
  • Pengaruh paparan radiasi dan unsur toksin

Kaitan Pola Makan & Gaya Hidup dengan Leukemia pada Anak

Sebuah riset yang dikemukakan pada Nature Reviews Cancer  tahun 2020 dijelaskan bahwa aspek pola dan gaya hidup pada anak dapat mempengaruhi tingkat resiko anak mengidap kanker darah atau leukemia.

Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa anak yang justru mendapatkan proteksi ekstra akan memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap leukemia. Sementara anak yang dibiarkan memiliki pola makan biasa dan hidup tanpa harus terlalu bebas kuman mungkin memiliki ketahanan lebih baik terhadap leukemia.

Dijelaskan pula bahwa keluhan infeksi ringan yang dialami anak di tahun pertamanya, justru menjadi cara terbaik menstimulus imun tubuhnya. Imun yang sudah terlatih ini akan lebih siap menghadapi infeksi-infeksi lain di masa datang.

Gen pendorong kanker darah sebenarnya sudah berada dalam tubuh anak tertentu sejak lahir. Dan akan terpicu menjadi aktif karena sejumlah infeksi di masa kanak-kanak. Ketika kondisi imun tidak cukup kuat dorongan ini dengan mudah berkembang menjadi kanker. Tetapi bila tubuh sudah memiliki imun yang cukup kuat, maka dorongan ini dengan mudah diatasi.

Mungkin ini bukan sebuah pemahaman sederhana. Persoalannya adalah karena sejumlah infeksi juga tetap bisa beresiko tinggi bahkan mungkin mematikan bila menyerang anak-anak dibawah usia 1 tahun.

Hingga saat ini, belum dapat dirumuskan tindakan pencegahan leukemia pada anak. Bahkan diakui mengenali ciri awal dari leukemia anak sendiri sulit untuk dilakukan. Ini karena setiap ciri awal dari leukemia anak memang serupa dengan sejumlah keluhan ringan yang lazim muncul pada anak.

Meski leukemia juga termasuk jenis kanker yang mematikan, terbukti pada stadium awal tingkat kesembuhannya bisa mencapai angka 90%. Tentu saja untuk itu diperlukan ketanggapan dalam membaca gejala leukemia pada anak dengan lebih seksama. Hingga keberadaan leukemia dapat terdeteksi dini.

gejala leukemia pada anak
Credit Photo: Sasiistock / iStock

Gejala Leukemia pada Anak

Telah disampaikan sebelumnya, banyaknya kasus leukemia yang sulit terdiagnosa lebih awal karena ciri awal dari penyakit leukemia anak yang sulit dibedakan dari penyakit ringan lain yang lazim menyerang anak-anak.

Tetapi sebenarnya, ada kondisi spesifik yang bila muncul bersamaan dapat menjadi alarm untuk Anda sebagai orang tua. Berikut adalah sejumlah gejala leukemia pada anak yang perlu Anda waspadai.

1. Anemia

Anemia adalah kondisi tubuh yang mengalami kekurangan sel darah merah. lebih tepatnya komponen protein haemoglobin yang menjadi unsur utama dari sel darah merah. Kondisi ini sebenarnya sangat lazim terjadi pada anak-anak. Meski pada anak, masalah anemia akan mempengaruhi kecakapan kognitif, fokus hingga imunitas anak.

Sel darah merah berfungsi besar dalam tubuh manusia. Sel darah merah  dalam hal ini haemoglobin akan menghantarkan oksigen ke seluruh tubuh. Sementara setiap sel tubuh membutuhkan oksigen untuk tetap berfungsi dengan optimal, termasuk di dalamnya otak dan sistem imunitas.

Pada umumnya kondisi anemia pada anak terjadi akibat pola asupan yang tidak seimbang dengan aktivitas anak yang memang cenderung lebih aktif. Mereka dengan kondisi anemia akan menunjukan sejumlah tanda seperti mudah lelah, pusing, sakit kepala, merasa dingin, kulit pucat, sulit konsentrasi dan lain sebagainya.

Tetapi, anemia bisa menjadi alarm bahaya ciri awal leukemia anak ketika anak tetap mengalami anemia sekalipun pola makan dan terapi anemia biasa sudah dilakukan. Setidaknya level haemoglobin tetap bertahan dibawah 9 gram per darah liter dalam jangka tertentu.

Gejala leukemia pada anak seperti ini terjadi karena tubuh gagal memproduksi cukup sel darah merah. Akibat tubuh sudah dipenuhi oleh sel darah putih abnormal hingga tidak lagi cukup efektif memproduksi sel darah merah. Selain ada kemungkinan sel darah putih abnormal ini justru merusak sel darah merah yang ada. Biasanya ciri awal dari leukemia anak ditandai dengan kadar sel darah merah

2. Sering Lebam & Perdarahan

Sebaiknya Anda segera waspada ketika si kecil mulai tampak sering lebam, bahkan dalam ukuran lebam yang tidak normal. Juga ketika si kecil mengalami luka ringan namun dengan jumlah darah keluar yang berlebihan. Termasuk ketika si kecil menjadi kerap mimisan juga gusi berdarah. Kadang pasien juga mengalami kondisi bintik merah di permukaan kulit yang menyerupai demam berdarah.

Mudahnya anak mengalami lebam dan perdarahan, bisa jadi adalah gejala dari leukemia pada anak. Peningkatan produksi sel darah putih abnormal menyebabkan pasien juga mengalami gangguan dalam memproduksi cukup trombosit.

trombosit adalah keping darah yang menjadi agen pembekuan darah. Ketika terjadi luka, keping darah ini akan membentuk penggumpalan hingga luka menutup dan darah tidak lagi keluar. Sehingga ketika kadarnya turun, maka otomatis tubuh akan mengalami gangguan dalam proses penggumpalan darah.

Dalam kondisi normal tubuh membutuhkan setidaknya 150.000–400.000 trombosit per mikroliter darah. Anda perlu mewaspadainya sebagai gejala leukemia pada anak ketika si kecil mengalami penurunan trombosit hingga di bawah 80.000 trombosit per mikroliter darah.

3. Mudah Infeksi

Ada dua alasan kenapa mudah sakit dan infeksi dapat menjadi gejala dari leukemia pada anak. Pertama karena kadar haemoglobin yang rendah hingga kebutuhan asupan oksigen menuju organ-organ imunitas tidak terpenuhi.

Kedua karena tubuh kelebihan sel darah putih atau leukosit abnormal yang bekerja tidak pada mestinya. Akibatnya fungsi seharusnya dari leukosit sebagai salah satu senjata utama dalam melawan serangan infeksi justru berkurang drastis. Bahkan mungkin leukosit berlebihan ini memicu tubuh menjadi lebih mudah mengalami peradangan, lebih dari biasanya.

Hingga ketika terjadi serangan bakteri atau virus, pengaruhnya justru lebih buruk dan cepat berkembang dari seharusnya. Bahkan serangan infeksi ringan saja bisa berkepanjangan dan lebih berat. Bila anak demikian sering mengalami infeksi dan menjadi berat lebih cepat dari kebanyakan anak sebaiknya memang Anda harus waspada.

Mudahnya anak menjadi sakit sendiri pada dasarnya sudah menjadi alarm bahwa kondisi kesehatan Anda terganggu. Artinya ada yang tidak normal pada sistem imunitas anak. Dan bila Anda sudah memperbaiki asupan vitamin dan pola makannya, tetapi kebiasaan sakit tidak juga hilang. Sebaiknya Anda mencoba pemeriksaan mendalam untuk memastikan kondisi tersebut bukan ciri awal leukemia anak.

4. Pembengkakan

Pembengkakan juga bisa menjadi alarm adanya gejala leukemia pada anak. Ini karena sel darah putih menyebabkan efek kerusakan pada organ tertentu atau pada sel-sel pembuluh darah di area tertentu. Akibatnya sirkulasi darah dari dan menuju pembuluh darah tersebut terganggu. Ini menyebabkan efek edema dan pembengkakan.

Biasanya kondisi ini terjadi ketika sel darah putih berlebihan ini merusak sel darah merah dan pembuluh darah dalam tubuh. Hingga membentuk sumbatan pada vena yang disebut dengan  superior vena cava syndrome.

Pembengkakan bisa terjadi pada wajah, perut, kaki, nodul limfa atau kelenjar getah bening. Gangguan ini bisa muncul hanya di saat tertentu seperti saat bangun tidur. Tetapi juga mungkin terjadi dalam jangka panjang, bahkan mungkin dapat mengancam nyawa. Ini bergantung pada perkembangan dari sumbatan yang terbentuk.

5. Nyeri pada Tulang & Sendi

Anak seharusnya tidak mengalami keluhan pada persendian, seperti reumatik, arthritis dan asam urat. Ini karena sejatinya kondisi persendian pada anak masih sangat baik. Jadi Anda patut waspada ketika keluhan nyeri pada sendi dan tulang terjadi pada anak. Apalagi bila keluhan ini muncul terus menerus muncul. Bisa jadi ini adalah gejala dari leukemia pada anak.

Sel darah putih yang berlebihan akan menyebabkan sel darah putih menumpuk pada beberapa area tubuh. Salah satunya mungkin bertumpuk pada area tulang dan sendi. Sifat sel darah putih yang berpotensi untuk memicu peradangan menyebabkan area persendian dapat saja mengalami keropos dan rusak.

Inilah yang kemudian menyebabkan pasien mengalami gangguan persendian seolah tengah mengalami reumatik atau asam urat. Kadang rasa nyeri yang muncul akan relatif ringan tetapi tak jarang juga menjadi cukup menyakitkan.

6. Kehilangan Nafsu Makan, Mual, & Mudah Muntah

Sebagaimana dijelaskan kerusakan dalam sumsum tulang belakang ini dapat memicu kerusakan secara domino di seluruh tubuh. Ini pula yang menyebabkan leukemia sebagai salah satu kanker yang mematikan.

Salah satu organ yang berpotensi tinggi untuk rusak adalah hati, limpa, ginjal dan empedu. Sejumlah organ ini berperan dalam proses produksi hormon yang bekerja mendorong selera makan. Gangguan pada sistem kerja organ tersebut dapat menghambat kinerja usus, enzim dan produksi hormon yang bekerja pada pencernaan.

Selain itu, organ-organ ini berada di area sekitar perut. Bila terjadi pembengkakan, maka organ tersebut mungkin akan mendesak usus dan organ lain dalam sistem pencernaan. Usus dan organ pencernaan yang terdesak akan merasa seolah terus menerus penuh. Bahkan mungkin merasa mudah mual dan ingin muntah.

Ini pula sebabnya salah satu gejala yang kentara dari leukemia pada anak adalah penurunan berat badan drastis. Selagi tubuh tidak berselera makan, tubuh justru cenderung mengalami sejumlah metabolisme abnormal yang memakan kalori.

7. Sakit Kepala & Kejang

Meski dalam kasus yang tidak tinggi, sejumlah ciri awal lain leukemia baik itu pada anak maupun dewasa adalah masalah sakit kepala hebat dan kejang. Ini terjadi ketika sel darah putih mulai menyebabkan kerusakan pada organ otak dan jaringan saraf pusat.

Ini adalah salah satu perkembangan leukemia yang cukup berbahaya dan berpotensi mematikan. Karena kerusakan pada otak dapat memicu gangguan seluruh sistem saraf secara general. Juga berpotensi mengganggu kinerja organ di seluruh tubuh.

8. Sangat Mudah Lelah

Dapat dipahami bahwa mereka dengan kondisi leukemia mungkin akan kekurangan sel-sel darah dalam tubuhnya. Karena komposisi sel darah putih yang berlebihan. Tubuh tidak lagi efektif dalam menghantarkan nutrisi dan oksigen ke seluruh tubuh. Tidak cukup energi tersampaikan ke setiap sel.

Akibatnya tubuh menjadi lebih mudah merasa lelah. Apalagi bila tubuh juga mengalami gangguan pola makan dan gangguan pada sistem saraf. Akibatnya tubuh mengalami malnutrisi dan gangguan saraf tepi yang dapat menyebabkan pasien semakin lemah dan mudah lelah.

Tak jarang, pasien mengalami gangguan motorik seperti berjalan atau menulis. Masalah ini terjadi dari efek kelemahan pada organ gerak tertentu karena lemahnya sistem saraf yang menjadi penggerak utama otot pada organ gerak tersebut.

9. Gangguan Pernapasan

Sebagaimana sudah dijelaskan, sel darah putih abnormal yang diproduksi oleh sumsum tulang belakang penderita Leukemia tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya. Alih-alih menjadi garda pengamanan dalam sistem imunitas, leukosit abnormal ini justru berpotensi menyebabkan peradangan yang kompleks dan bersifat merusak di dalam tubuh.

Sel darah putih ini berpotensi merusak tubuh, termasuk di antaranya pada paru-paru. Paru-paru yang mengalami kerusakan seperti ini akan menyebabkan penderita mengalami gangguan pernafasan. Itu sebabnya Anda patut waspada untuk sejumlah gejala awal leukemia pada anak seperti batuk, sesak nafas dan nafas yang berat.

10. Kulit Ruam

Kerusakan sel yang juga berpotensi muncul akibat serangan sel darah putih yang abnormal ini adalah permukaan kulit. Sel darah putih yang mencapai permukaan kulit dapat memicu terjadinya ruam pada kulit, seperti efek iritasi kulit yang kemerahan. Kadang muncul area luka serupa infeksi seperti bisul kecil-kecil.

Selain ruam kemerahan, ciri awal dari leukemia anak adalah terbentuknya noda kehitaman pada permukaan kulit atau kulit yang seolah habis terbakar ringan. Kerusakan ini mungkin menyebar secara random meski biasanya area yang terbuka dan banyak terpapar matahari memiliki resiko kerusakan lebih awal.

11. Terasa Terus-Menerus Masuk Angin

Anda tentu paham bagaimana rasanya ketika tubuh merasa tidak fit yang kemudian secara tradisional disebut dengan masuk angin. Prinsipnya, keluhan masuk angin tidak ditemukan dalam dunia medis modern.

Tetapi keluhan yang secara awam dikenal sebagai rasa masuk angin ini diam-diam bisa jadi ancaman. Terutama bila seseorang terus menerus merasa mudah lelah, lemas, mudah pegal dan linu, yang disertai pula dengan sejumlah gejala lain.

Rasa tidak nyaman dan tidak fit yang dirasakan pasien sebenarnya efek dari sistem imunitas yang terus mengalami ketidak stabilan. Juga karena sejumlah besar sel dalam tubuh mulai merasa terganggu oleh keberadaan sel darah putih yang berlebihan.

leukemia pada anak bisa sembuh
Credit Photo: FatCamera / iStock

Leukemia pada Anak Bisa Sembuh

Secara umum leukemia adalah salah satu jenis kanker yang paling mematikan. Demikian pula pada anak-anak. Hanya saja bukan berarti leukemia pada anak tidak bisa sembuh.  Terbukti bahwa leukemia pada anak tetap bisa sembuh, meski dengan sejumlah catatan.

Menurut data American Childhood Cancer Organization prognosis 5 tahunan dari leukemia pada anak berada pada kisaran di atas 85% pada jenis leukemia akut dan mencapai 60% pada kasus leukemia kronis. Prognosis 5 tahunan di sini artinya pasien diasumsikan dapat bertahan hidup lebih dari 5 tahun.

Tetapi pada stadium 1 prognosis pada umumnya bisa mencapai angka di atas 90%. Hanya disayangkan, angka temuan kasus leukemia anak cenderung lebih kerap terjadi pada kasus stadium lanjut. Hanya kisaran 5-10% saja kasus leukemia stadium 1 dapat ditemukan. Dan lagi-lagi karena ciri awal dari leukemia pada anak ini cenderung ringan dan samar.

Gejala leukemia pada anak akan lebih kentara ketika memasuki stadium 3 keatas. Yang tentu saja memiliki resiko kematian lebih tinggi dibandingkan pada stadium 1. Dan leukemia pada anak di kondisi demikian mungkin akan lebih sulit untuk bisa sembuh.

Bagaimana potensi pasien leukemia pada anak bisa sembuh sendiri bergantung pada sejumlah aspek. Adapun aspek tersebut antara lain :

Jenis dan Penggolongan

Ada banyak kategori dalam menilai prognosis, terutama terkait dengan jenis leukosit yang terganggu, tingkat kerusakan pada sumsum tulang belakang, jumlah sel darah putih abnormal yang ditemukan dalam darah, kromosom yang mempengaruhi dan lain sebagainya

Usia Pasien

Pada beberapa kasus, aspek usia bisa berperan. Pasien dengan usia kisaran 1 sampai 9 tahun dikatakan memiliki tingkat keberhasilan terapi lebih baik dari pasien dibawah usia 1 tahun dan di atas 10 tahun. Aspek ini lebih berperan pada jenis leukemia B sel dan bukan leukemia T sel.

Jenis Kelamin Pasien

Meski kini mulai banyak diperdebatkan secara medis, tetapi anak perempuan cenderung lebih mampu bertahan dibandingkan pasien anak laki-laki. Belum jelas bagaimana ini terjadi sebenarnya.

Ras Pasien

Selain aspek kelamin, ternyata unsur ras juga berperan dalam proses penyembuhan pasien leukemia. Pasien leukemia pada anak yang berasal dari afrika-amerika dan hispanik dikatakan lebih memakan waktu untuk bisa sembuh.

Kerusakan yang Sudah Terjadi

Sebagaimana dijelaskan di atas kelebihan sel darah putih abnormal dapat menyebabkan serangan pada organ dalam tubuh. Dan semakin banyak kerusakan organ yang terjadi sudah tentu akan semakin sulit untuk mengatasinya.

Respons terhadap Terapi

Terakhir yang menentukan potensi leukemia pada anak bisa sembuh adalah bagaimana terapi dapat membantu meningkatkan prognosis dan menyembuhkan Leukemia. Setiap terapi harus disertai evaluasi untuk menilai bila pasien merespon dengan positif terapi yang diberikan.

Leukemia merupakan salah satu kanker yang banyak mengancam anak-anak. Dengan ciri awal yang sulit dikenali, leukemia pada anak menjadi ancaman yang menakutkan. Tetapi tidak menutup kemungkinan leukemia pada anak bisa sembuh. Diagnosa sedini mungkin berperan besar dalam hal ini. Karenanya penting untuk memahami bagaimana sebenarnya gejala dari leukemia pada anak.

Sumber

Referensi Gejala Leukemia pada Anak:

Bethany Cadman. Medical News Today. Updated: 2018-07-06. What are the early symptoms of leukemia in children?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/322389

American Childhood Cancer Organization. Updated: 2018-09-10. What is The Expected Lifespan of a child with Leukemia. https://www.acco.org/blog/what-is-the-expected-lifespan-of-a-child-with-leukemia/#:~:text=The%205%2Dyear%20survival%20rate%20for%20Acute%20lymphocytic%20leukemia%20(ALL,%25%2C%20but%20has%20still%20improved.

Ann Pietrangelo. Healthline. Updated: 2019-03-29. Common Symptoms of Leukemia in Children. https://www.healthline.com/health/symptoms-leukemia-children#symptoms

American Cancer Society. Updated: 2019-02-12. Leukemia in Children. https://www.cancer.org/cancer/leukemia-in-children.html

Tentang Penulis 

Nurul Kuntarti

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting oleh Nurul Kuntarti seorang seorang sarjana ekonomi yang menemukan hasratnya dalam bidang kesehatan sejak memiliki putri pertamanya. Keinginan untuk terus memahami dunia kesehatan dilanjutkan dengan mengabdikan diri dalam dunia tulis-menulis di bidang kesehatan, untuk terus menghasilkan artikel-artikel kesehatan yang akurat, kredibel, dan bermanfaat.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}