Hepatitis C: Gejala, Penyebab dan Penanganannya

171
penyakit hepatitis C
sumber : coracaoevida.com.br

Diedit:

Hepatitis C adalah salah satu bentuk penyakit hati yang terkait dengan serangan infeksi oleh virus hepatitis C. Penyakit ini merupakan salah satu bentuk infeksi hepatitis selain hepatitis A dan B yang sudah lebih dulu familier di kalangan awam.

Gejala Hepatitis C terbilang samar dan sulit untuk dikenali, karenanya banyak pasien penyakit hati ini yang baru menyadari keberadaan penyakit ini pada stadium lanjut.

Alasan Penyakit Hepatitis C Berbeda

Ada beragam jenis infeksi hepatitis dan lazim dibedakan dengan identifikasi alfabet. Selama ini kebanyakan dari kita lebih familier dengan infeksi hepatitis A dan B. Lalu apa yang berbeda dari hepatitis C dibandingkan dengan hepatitis lain.

Bersumber pada immunize.org, perbedaan mendasar dari hepatitis C dibandingkan dengan jenis hepatitis A dan B terletak pada jenis virusnya yang tergolong lebih berbahaya meski tidak semematikan hepatitis B.

Sampai saat ini virus hepatitis C belum memiliki vaksin sehingga secara medis belum dalam dihindari. Secara umum, virus ini hidup dalam liver dan darah, sehingga penularan utama akan berkaitan dengan kontak seseorang dengan darah pengidap hepatitis C.

Hepatitis C menjadi salah satu penyebab utama masalah sirosis hati dan kanker hati setelah hepatitis B. Penyakit hati ini bersifat kronis yang menahun dan bekerja lambat. Meski bekerja lambat, kerusakan yang ditimbulkan cenderung serius tetapi tidak terlihat.

Fakta Penyakit Hepatitis C

Menurut data WHO, teridentifikasi setidaknya 70 juta orang terdiagnosa mengidap hepatitis C kronis dan sekitar 390 ribu meninggal karena penyakit ini. Sebagian besar kematian berkaitan dengan berkembangnya  hepatitis C menjadi sirosis hati dan kanker hati.

Meski demikian, 95% kasus hepatitis C di dunia dapat diatasi dengan terapi antiviral. Antiviral yang tepat terbukti efektif melumpuhkan virus dan menghambat perkembangan virus dalam merusak sel-sel hati.

Hepatitis C Di Indonesia

Menurut data Depkes, kasus hepatitis C di Indonesia mencapai angka 3 juta dengan tingkat prevelansi sekitar 9%. Dari data ini, 50% kasus hepatitis C memiliki resiko tinggi mengarah menjadi penyakit hati kronis yang mematikan. Sedang  10% kasus memiliki resiko tinggi mencapai kanker hati.

Karena penyakit hati ini disebabkan oleh virus, maka sebenaarnya daya tahan tubuh dapat pula diandalkan untuk menghadapi serangan dalam stadium ringan. Setidaknya 15 % kasus hepatitis C ringan dapat teratasi tanpa terapi medis, hanya dengan terapi imunitas.

Baca juga:  Penyakit Hepatitis E Menular Melalui Makanan Penderitanya

Namun pada kasus hepatitis C kronis yang menahun dan kumatan, terapi harus berjalan dengan lebih intensif. Setidaknya 60% kasus hepatitis C di dunia berkaitan dengan hepatitis menahun dengan resiko sirosis hati mencapai angka maksimal 30% pasca  terdiagnosa selama 20 tahun.

Penyebab Penyakit Hepatitis C

Virus HCV menyerang liver dan darah. Karenanya penularan terkuat berasal dari darah. Bahkan virus HCV sendiri dapat bertahan pada udara terbuka, termasuk pada ceceran darah di ruang terbuka.

Penularan tersering terjadi akibat kontak dengan darah seperti pada pekerja medis yang menangani pasien hepatitis C, tranfusi darah dan suntikan yang bergantian. Kasus penularan lain bisa melalui perantara perangkat tato dan tindik yang tidak disterilisasi,

Dalam kasus yang lebih kecil, hanya sekitar 20% di seluruh dunia, penularan penyakit hati ini terjadi antara ibu terhadap bayi yang dilahirkan dan melalui hubungan seksual.

penularan virus kepada mitra seks terbilang jarang, kecuali mitra dalam kondisi cukup lemah. Atau ketika aktivitas seks kemudian menyebabkan seseorang terkontak dengan darah pasien, seperti bila melakukan aktivitas seks saat menstruasi.

Sementara itu, penularan virus HCV tidak terjadi melalui perantara air susu ibu, keringat, air liur, berbagi makanan hingga dari aktivitas intim lain semacam berpelukan dan berciuman.

Gejala Penyakit Hepatitis C

Masa inkubasi dari virus HCV ini mencapai kisaran 2 pekan hingga 6 bulan. Hepatitis C dapat menjadi penyakit akut bila serangan bekerja cepat dan singkat. Dan dapat pula menjadi penyakit kronis bila berkembang lambat, kumatan dan menahun. Jenis hepatitis C kronis lebih berbahaya dan sulit diobati dari jenis hepatitis C akut.

Namun setidaknya 20% kasus menunjukan gejala hepatitis C yang cukup mudah dikenali. Beberapa gejala  tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

Jaundis

Ini adalah kondisi ketika tubuh terlihat terlalu kuning dari kondisi normal. Bahkan pasien bisa menunjukan rona kekuningan pada bola mata, kuku jari, wajah, telapak tangan, wajah dan lidah. Kondisi ini menjadi ciri khas penyakit hati, termasuk gejala hepatitis C.

Efek lelah dan mudah lemas

Mereka yang memiliki keluhan penyakit hati memang akan cenderung mudah lelah dan merasa lemas. Ada kaitan antara kesehatan hati dengan kinerja metabolisme dan pembentukan energi. Kesehatan hati juga  berkaitan dengan kinerja darah dalam menghantarkan oksigen menuju seluruh tubuh.

Demam dan pegal linu

Sebagaimana kebanyakan infeksi virus, pasien juga akan mengeluhkan sejumlah reaksi seperti demam dan rasa pegal linu. Pasien juga bisa mengeluhkan reaksi mual dan kehilangan nafsu makan.

Tinja berwarna abu-abu

Gejala hepatitis C yang khas lain adalah munculnya tinja berwarna abu-abu. Ini karena tidak turunnya urobilin atau bilirubin menuju feses yang menjadi pembawa pigmen bagi feses. Ketika Anda mengalami masalah hati, fungsi pembentukan bilirubin terganggu dan memicu warna feses berubah.

Urin berwarna gelap

Gejala hepatitis C lain juga muncul pada urin. Sementara tinja pasien berwarna kelabu, justru warna urin akan berwarna gelap ada kandungan cairan empedu yang gelap pada urin yang membuat warna urin menjadi gelap. Cairan empedu memang diproduksi oleh hati dan terjadinya penyakit hati akan memicu gangguan pada fungsi penyaluran dari cairan tersebut.

Nyeri perut kanan

Karena ada infeksi virus dan peradangan pada hati yang berada di perut sisi kanan, maka pasien akan merasakan nyeri pada sisi kanan perut. Biasanya rasa nyeri akan berpusat pada sisi kanan atas perut tak jauh dari tulang rusuk terbawah.

Emosi yang tidak stabil

Gejala hepatitis C lain berkaitan dengan masalah emosi, konsentrasi dan kemampuan kognitifnya. Ada kaitan antara masalah penyakit hati dengan keseimbangan hormonal dalam tubuh dan kinerja pada fungsi neurotransmitter yang mempengaruhi kemampuan berpikir dan mood.

Gangguan kulit

Munculnya penyakit hati akan menyebabkan tubuh menghimpun lebih banyak toksin dalam tubuh. Karena hati memiliki fungsi utama sebagai sistem netralisasi toksin dan residu dari dalam tubuh. Dan tanda awal dari efek tingginya toksin ini akan muncul pada kulit, seperti dengan munculnya ruam, gatal dan jerawat. Ini yang kemudian menjadi gejala hepatitis C yang mudah Anda kenali.

Yang menjadi perhatian, cukup sulit mengenali gejala hepatitis C. Bahkan 65% dari kasus tidak menunjukan gejala hepatitis yang jelas sama sekali di awal, hingga menyulitkan proses diagnosa awal.

Baca juga:  Efektivitas Noni Juice untuk Pengobatan Penyakit Hepatitis B

Penanganan Pasien Hepatitis C

Penanganan pasien hepatitis C akan diterapkan berdasar kondisi tiap pasien dan jenis genotipe dari virus yang menyerang. Terapi sendiri juga akan menilik kondisi fungsi imunitas tubuh, karena pada dasarnya trik terbaik dalam melawan infeksi virus adalah dengan kekuatan sistem imunitas tubuh.

Selain dengan terapi imunitas, pasien akan dibantu dengan terapi anti viral. Beberapa jenis anti viral yang lazim diberikan pada pasien hepatitis C antara lain adalah pegylated interferon, ribavirin, simeprevir, sofobuvir, daclatasvir, kombinasi ledipasvir dan sofosbuvir, serta kombinasi dari ombitaisvir, paritaprevir dan ritonavir.

Biasanya terapi ini diberikan via suntikan selama 48 pekan. Pada umumnya, terapi anti viral inilah yang kerap menghambat penyembuhan pasien, karena dianggap terlalu mahal.

Terapi dengan anti viral ini juga memiliki sejumlah efek samping. Seperti pada konsumsi ribavirin yang terdeteksi berbahaya bagi kesehatan ibu hamil dan janin dalam kandungan.

Belakangan juga tersedia terapi medis lain yang dikembangkan untuk menangani hepatitis C kronis atau menahun. Terapi yang dikenal dengan istilah Direct Antiviral Agent (DAA). Terapi DAA ini dilakukan dengan periode lebih pendek sekitar 4 bulan.

Dalam Pharmacology and Therapeutics tahun 2018 dijelaskan bahwa metode DAA ini akan menyerang molekul protein tertentu yang justru menjadi kunci nukleus dari virus HCV. Dan itu sebabnya meski berlangsung lebih singkat kinerjanya lebih efektif dengan efek samping yang cenderung terkendali.

Pasca Terapi Hepatitis C

Pasca terapi, perhatian terhadap pasien  tidak boleh berkurang. Karena pasien harus tetap menjaga gaya hidupnya untuk mencegah penyakit hati ini kambuh kembali. Ini karena virus bisa saja tidak seluruhnya mati dan tersingkir dari tubuh, melainkan hanya pasif. Apabila pasien dalam kondisi menurun, virus yang sudah non aktif ini dapat kembai agresif dan

Semakin dini pasien  tertangani, semakin efektif progres yang dapat dicapai dan semakin efektif terapi membantu mencegah efek kerusakan yang lebih berat. Karenanya membaca gejala hepatitis C dengan cepat adalah cara terbaik dalam mengobati penyakit hati ini.

terapi hepatitis C
sumber : 123rf

Karena ketika pasien  tidak tertangani dengan baik dalam jangka panjang dapat menyebabkan sirosis hati dan kanker hati. Pada level ini kecenderungan pasien untuk bertahan hidup relatif rendah.

Untuk proteksi, pasien  yang sudah melalui masa terapi disarankan sekali untuk memastikan tidak menularkan penyakit ini ke orang lain. Hindari segala aktivitas yang menyebabkan orang lain terkontak dengan darah pasien, termasuk menghindari donor darah dan meggunakan jarum suntik bergantian.

Noni dan Hepatitis C

Ada cukup banyak kontroversi berkaitan dengan noni dan pengaruhnya terhadap hati. Dalam sejumlah literatur dijelaskan bahwa noni memiliki efek hepaprotektif sebagaimana dijelaskan dalam Journal of the Chinese Medical Association tahun 2017.

Tetapi di sisi lain ditemukan adanya sejumlah kasus hepatoksin pada noni yang perlu dipahami, sebagaimana telah dijelaskan dalam Case Reports of Gastroentology tahun 2013.

Salah satu penyebab utama dari kasus hepatoksin adalah kandungan anthraquinon dalam noni. Tetapi sebenarnya kadar anthraquinon dalam noni tidak berada pada level berbahaya. Kandungannya masih dapat ditoleransi tubuh sebagaimana dijelaskan pada World Journal of Gastroenterology tahun 2006.

noni dan hepatitis C
source : twitter.com

Justru dalam noni terdapat komponen yang membantu memaksimalkan proses netralisir toksin dan membantu mempercepat proses regenerasi sel hati. Juga terdapat komponen yang membantu peningkatan kerja imunitas yang akan berperan dalam proses penyembuhan.

Pasien  dapat menarik manfaat dari efek anti viral dan anti peradangan dari noni. Meski manfaat noni terhadap hepatitis C tergantung pada seburuk apa kondisi peradangan yang sudah terbentuk. Pada level yang berat terapi noni sebaiknya dihindari mengingat toleransi tubuh terhadap senyawa asing relatif sangat kecil.

Noni justru dianggap efektif membantu pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari penyakit hati ini untuk menjaga kondisi tubuh, hati  dan terus mengoptimalkan fungsi imunitas. Ini akan efektif mencegah kumatnya gejala hepatitis C di kemudian hari. tentu perhatian aturan pakai dalam mengonsumsi noni.