Deherba.com | Situs Herbal No. 1 Indonesia
hubungi kami

Penyebab Alergi Penyebab Alergi

Berhati-hatilah dengan 10 Penyebab Alergi Ini!

Kasus alergi dari tahun ke tahun terus meningkat dengan angka 30 hingga 40 persen dari keseluruhan populasi dunia, menurut data dari World Allergy Organization tahun 2011. Tak terkecuali di Indonesia pun angka kejadian alergi selalu meningkat setiap tahunnya. Apakah Anda juga salah satu penderita alergi?

Anda menderita alergi apabila sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap suatu unsur yang tidak menyebabkan reaksi apa-apa pada kebanyakan orang lain.

Tugas sistem kekebalan tubuh adalah untuk mencari unsur-unsur asing, semacam virus dan bakteri, kemudian membasmi mereka. Pada orang-orang yang memiliki alergi, sistem kekebalannya secara keliru mengenali unsur yang tak berbahaya, seperti serbuk sari atau kacang, sebagai ‘penyusup’ asing berbahaya dan mulai memproduksi bahan-bahan kmiai untuk membasminya. Reaksi keliru sistem kekebalan tubuh inilah yang menimbulkan gejala-gejala alergi.

Di dunia ini ada cukup banyak yang dapat menjadi penyebab alergi, mulai dari menimbulkan reaksi ringan hingga reaksi yang tiba-tiba serta membahayakan kehidupan. Jika Anda punya masalah ini, sebaiknya hindari ke-10 penyebab alergi berikut ini:

Serbuk Sari

Paparan terhadap serbuk sari, yakni serbuk halus yang dihasilkan oleh pohon, rumput, dan tanaman lainnya, sanggup memicu reaksi alergi pada tubuh. Bahkan, serbuk sari adalah salah satu penyebab alergi yang paling utama.

Partikel kecil yang dilepaskan oleh tanaman ini sebenarnya berguna untuk menyuburkan bagian-bagian dari tanaman lain, karena itu serbuk sari gampang tertiup udara. Tetapi sayangnya, kadang-kadang mereka masuk ke rongga hidung atau tenggorokan, lalu memicu reaksi alergi.

Gejala alergi akibat serbuk sari biasanya adalah bersin, hidung meler, gatal di tenggorokan, batuk, hidung tersumbat dan gatal, serta mata berair.

Anda bisa meringankan gejalanya dengan berdiam di dalam ruangan jika udara sedang berangin. Juga, tutuplah pintu serta jendela dan nyalakan air conditioner untuk menurunkan kelembapan serta mengurangi jumlah serbuk sari di udara yang berhasil menyelinap masuk ke dalam ruangan.

Binatang

Banyak keluarga memelihara setidaknya satu jenis binatang berbulu di rumahnya. Memang, memelihara dan merawat binatang punya banyak manfaat, tetapi sayangnya mereka juga bisa menjadi penyebab alergi yang Anda atau anggota keluarga Anda alami.

Protein yang ada di serpihan kulit , air liur, dan urin binatang bisa menimbulkan reaksi alergi pada manusia. Hal tersebut juga dapat memperparah gejala-gejala asma pada beberapa orang. Ditambah lagi, serbuk seri, spora jamur, serta penyebab alergi dari luar ruangan lain dapat menumpuk di bulu binatang—dan akhirnya mereka dibawa masuk ke dalam rumah.

Sejumlah gejala alergi yang dipicu oleh binatang antara lain bersin, hidung meler, mata gatal atau berair, hidung tersumbat, hidung gatal, batuk, nyeri dan tekanan di wajah akibat radang sinus, sulit bernapas, hingga nyeri atau tekanan di dada.

Bagi yang menderita alergi seperti ini, Anda sebaiknya mengambil langkah-langkah untuk mengurangi penyebab alergi dari binatang di daam rumah. Anda bisa melakukannya dengan memandikan binatang piaraan secara teratur, rajin membersihkan lantai dan perabotan, mengganti dan mencuci seprai, serta jangan biarkan binatang piaraan naik ke perabotan atau ke dalam kamar Anda.

Jamur

Jamur mold tumbuh di tempat-tempat lembap dan hangat, seperti di ruang bawah tanah atau kamar mandi, juga di rerumputan atau dedaunan. Jenis jamur ini berkembang biak melalui spora yang bisa beterbangan di udara.

Spora tersebu bisa memicu reaksi alergi bila masuk ke dalam rongga hidung Anda. Beberapa gejala akibat alergi mold adalah bersin, gatal, hidung meler, iritasi mata, batuk, hidung mampet, serta asma kambuh.

Mereka yang tinggal di rumah yang ventilasinya buruk serta sangat lembap biasanya akan mengalami masalah dengan jamur mold. Untuk membantu mencegah pertumbuhan mold, lakukan ini:

  • Berikan ventilasi di tempat-tempat yang lembap, misalnya gunakan kipas exhaust selagi mandi di kamar mandi.
  • Bersihkan kamar mandi, dapur, dan seluruh rumah secara rutin untuk mencegah perkembangbiakan spora mold.
  • Singkirkan sumber lembap berlebihan, misalnya dari pipa atau atap sirap yang bocor.
  • Jaga saluran ar di sekitar rumah tetap bersih.
  • Singkirakan dedaunan atau kayu basah yang berjamur dari halaman rumah.

Tungau Debu Rumah

Tungau debu rumah adalah organisme mikroskopik yang hidup pada debu rumah. Mereka makan sel-sel kulit mati yang selalu terkelupas dari manusia. Tungau debu dapat bertahan hidup di semua iklim dan wilayah.

Alergi akibat tungau debu dapat menimbulkan tanda dan gejala yang cukup beragam, misalnya hidung meler atau gatal, kulit gatal, hidung mampet, tekanan pada sinus, mata berair, tenggorokan gatal, batuk, mata bengkak, susah tidur, nyeri atau sesak dada, sulit bernapas, serta sesak napas.

Untuk mencegah reaksi alergi akibat tungau debu lakukan ini:

  • Lapisi tempat tidur, bantal, dan guling dengan bed cover yang berbahan allergen-proof.
  • Cuci seprai, sarung bantal, selimut, dan bed cover dengan air panas setidaknya sekali seminggu. Keringkan di bawah sinar matahari bila sedang terik, atau gunakan alat pengering.
  • Jaga rumah tetap bersih dari benda-benda yang mungkin jadi tempat debu menumpuk, seperti boneka, tirai, dan karpet.
  • Bersihkan rumah Anda secara teratur.

Kecoak

Ternyata serangga yang bikin jijik banyak orang ini juga adalah salah satu penyebab alergi. Protein di dalam kotoran, air liur, dan anggota tubuh mereka adalah alergen yang benar-benar merepotkan.

Gejala-gejala alergi akibat protein dari kecoak biasanya ialah batuk, hidung tersumbat, ruam di kulit, bersin, dan infeksi telinga atau sinus. Bahkan kecoak juga dapat memicu serangan asma pada bayi dan anak kecil.

Anda bisa mencegah perkembangbiakan serangga ini dengan cara:

  • Jangan taruh makanan atau makanan hewan di tempat terbuka sehingga bisa menarik perhatian kecoak.
  • Segera tutupi tempat sampah, cuci piring-piring, dan bersihkan remah-remah makanan yang jatuh.
  • Tutup celah-celah di jendela dan lantai rumah.
  • Perbaiki atau bersihkan sumber dari kelembapan.
  • Kurangi kelembapan di dalam rumah, karena udara yang lembap mendukung pertumbuhan kecoak dan hama serangga lainnya.

Makanan

Anda menderita alergi makanan jika sistem kekebalan tubuh bereaksi abnormal terhadap sesuatu yang Anda konsumsi. Sejumlah jenis makanan yang sering menimbulkan reaksi alergi antara lain adalah susu sapi, telur, kacang, ikan, kerang, kacang pohon (misalnya kacang mete atau kenari), gandum, serta kedelai.

Alergi makanan dapat menyebabkan reaksi yang ringan hingga berat. Gejala ringan mungkin termasuk bersin, hidung tersumbat atau meler, mata berair, bengkak, ruam, kram perut, mual, muntah, dan diare. Di sisi lain, gejala yang parah adalah kesulitan bernapas, bengek, gatal-gatal, dan pusing.

Untuk mencegah reaksi alergi, hindarilah makanan yang biasanya menimbulkan masalah bagi Anda, bahkan dalam jumlah kecil sekalipun. Dan sewaktu membeli makanan di luar, periksalah bahan-bahannya secara teliti.

Sengatan Serangga

Disengat oleh lebah atau tawon memang sangat menyaitkan, tetapi masalahnya jadi lebih besar jika Anda alergi terhadap racun serangga. Reaksi alergi akibat serangga biasanya tak jauh-jauh dari gigitan lebah madu, tawon kertas, tabuhan, dan semut api.

Sejumlah gejala alergi setelah sengatan serangga biasanya menimbulkan bengkak besar dan kemerahan yang dapat bertahan hingga seminggu atau lebih, mual, kelelahan, serta demam ringan. Pada kasus-kasus yang lebih serius, seseorang bisa mengalami keluhan tambahan seperti kesulitan bernapas, gatal-gatal dan ruam, bengkak di wajah, tenggorokan, atau mulut, denyut nadi yang cepat, pusing, atau tekanan darah yang menurun tajam—gejala-gejala ini butuh pertolongan medis segera.

Untuk mencegah reaksi alergi akibat sengatan serangga, Anda harus mencegah jangan sampai tergigit oleh serangga apa pun. Tanyakan juga dengan dokter apakah Anda diperbolehkan membawa suntikan-suntikan alergi (imunoterapi).

Bahan Lateks

Bahan lateks juga bisa menjadi penyebab alergi. Anda menderita alergi ini jika sistem kekebalan tubuh mendeteksi lateks sebagai zat berbahaya lalu melepaskan antibodi tertentu untuk membasminya.

Anda mungkin akan menderita reaksi alergi hanya dengan menyentuh produk-produk yang mengandung lateks, seperti sarung tangan, balon, dan kondom. Sejumlah tanda-tanda reaksi alergi mencakup gatal-gatal, kulit memerah, ruam, bersin, hidung meler, mata berair, tenggorokan gatal, kesulitan bernapas, bengek, dan batuk. Gejala-gejala tersebut mungkin muncul beberapa menit setelah meyentuh bahan lateks.

Mereka yang alergi terhadap lateks harus membatasi atau menghindari sentuhan terhadap produk lateks. Masalah alergi juga dapat dicegah selama menjalani pengobatan gigi, medis, atau bedah bila Anda memberitahukan tentang alergi lateks Anda kepada pihak dokter sebelumnya.

Wewangian

Wewangian dalam produk-produk semacam parfum, lilin wangi, deterjen, dan kosmetik bisa memicu reaksi pada beberapa orang. Bebauan atau wewangian seperti itu biasanya terbuat dari bahan kimia sintetis yang tidak memicu produk antibodi oleh sistem kekebalan tubuh. Sebab itu, mereka bukan alergen, melainkan bahan iritan yang dapat menimbulkan gejala menyerupai alergi.

Reaksi terhadap wewangian biasanya termasuk bersin, hidung meler, mata berair, sakit kepala, sulit konsentrasi, pusing, sulit bernapas, bengek, kulit gatal, dan ruam-ruam di kulit. Bagi kebanyakan orang, keluhan-keluhannya akan berkurang setelah mereka menjauh dari sumber wewangian.

Cara terbaik untuk melindungi diri dari reaksi semacam alergi ini adalah dengan jauh-jauh dari sumber masalahnya. Ketahuilah jenis wewangian apa yang dapat memicu gejala Anda dan hindari. Dan kapan pun Anda ingin mencoba wewangian baru, sebaiknya ekstra hati-hati.

Obat-obatan

Beberapa orang bahkan bisa alergi terhadap obat-obatan. Hal ini terjadi jika sistem kekebalan tubuh Anda, yang seharusnya melawan infeksi serta penyakit, malah bereaksi terhadap obat. Reaksi tersebut bisa menyebabkan gejala yang ringan hingga berat, misalnya gatal atau ruam, mata terasa gatal, dan bengkak di mulut serta tenggorokan.

Jenis obat-obatan tertentu memang cenderung memicu reaksi alergi. Contohnya adalah obat-obatan antibiotik (penisilin), aspirin, nonsteroid anti-inflamasi(NSAID seperti ibuprofen), antikonvulsan (lamotrigin), dan obat-obatan kemoterapi.

Bila Anda pernah mengalami reaksi alergi terhadap obat tertentu, sebaiknya beritahukan dokter yang menangani. Namun jika Anda sudah terlanjur menderita reaksi alergi obat, beritahukan kepada dokter agar ia meresepkan obat antihistamin atau steroid untuk mengatasinya.

Bila Anda pernah merasakan reaksi alergi, itu berarti Anda harus berusaha mengidentifikasi sumber penyebab alergi tersebut agar bisa mencegahnya di lain kesempatan. Semakin Anda sanggup menghindari sumber masalahnya, maka semakin kecil kemungkinannya alergi kambuh.

Jangan lupa beritahukan juga kepada angota keluarga, rekan kerja dan teman-teman mengenai alergi yang Anda miliki. Informasikan kepada mereka apa saja yang perlu dilakukan jika suatu saat mereka melihat Anda sedang mengalami reaksi alergi dan ingin menolong. Ingatlah bahwa langkah-langkah pencegahan seperti ini bisa menyelamatkan nyawa Anda di masa depan.

FOLLOW DEHERBA.COM:
instagram

Log In or Register