10 Makanan Pemicu Demensia: Bagian 2

253

Diedit:

Sebagaimana dijelaskan dalam ulasan artikel bagian 1, bahwa makanan dan kandungan makanan tertentu ternyata memiliki peran cukup besar meningkatkan risiko seseorang mengalami demensia. Makanan pemicu demensia tidak hanya membuat seseorang mengalami peningkatan risiko demensia, tetapi juga membuat serangan demensia terjadi lebih dini atau dengan kerusakan yang lebih serius.

Mengatur pola makan sedemikian rupa demi menghindari efek sampingnya terhadap tubuh dalam jangka panjang adalah pilihan terbaik. Tetapi makanan pemicu demensia apa saja yang perlu Anda hindari?

1. Makanan mengandung fluoride

Selama ini kita memang sudah cukup familiar dengan senyawa kimia fluoride. Senyawa ini lazim Anda temukan dalam pasta gigi untuk membantu menguatkan gigi dan mengatasi kerapuhan gigi. Sebenarnya, selama dalam kadar aman fluoride alami masih aman termakan ketika Anda bersikat gigi.

Sayangnya, kebanyakan perusahaan pasta gigi memilih cara praktis untuk mendapatkan suplai fluoride yakni dengan menggunakan produk kimia buatan yang lebih lazim disebut dengan hydrofluorosilicic acid, sejenis senyawa substitusi fluoride alami yang memiliki efek negatif berupa daya korosif aktif terhadap sel-sel otak.

Dan kabar buruknya lagi, fluoride juga terkandung dalam kebanyakan minuman mineral dan pada air ledeng yang memungkinkan kita terpapar terlalu banyak fluoride. Sebuah riset di University of Czesch Republic membuktikan adanya kaitan erat peningkatan risiko demensia pada mereka yang hidup dengan mengonsumsi air minum mengandung fluoride.

Pengaruh dari fluoride, terutama untuk jenis sintetis cukup serius terhadap otak. Jangankan menjadi makanan pemicu demensia, bahkan pada anak-anak, paparan fluoride pada air minum dalam jangka panjang akan menurunkan kadar IQ mereka.

2. Mengonsumsi MSG berlebihan

Persoalan mengenai efek negatif MSG terhadap kesehatan otak masih banyak diperdebatkan. Sejumlah pandangan melihat MSG tidak sepenuhnya siginifikan menyebabkan kerusakan otak selama di konsumsi dalam takaran yang wajar. Sedangkan sebagian lain mengklaim MSG adalah neurotoksin yang perlu Anda hindari.

Namun dalam salah satu ulasan mengenai MSG yang dijurnalkan pada International Journal of Clinical and Experimental Medicine tahun 2009 membuktikan adanya pengaruh kerusakan sel yang perlu Anda waspadai ketika mengonsumsi MSG berlebihan, terutama pada usia di atas 40 tahun.

Baca juga:  Pahami Gejala Awal Demensia yang Tidak Anda Sadari!

Namun dalam jurnal yang sama juga dijelaskan bahwa pengaruh MSG terhadap sel otak anak dan remaja justru tidak terlalu signifikan, karena adanya kemampuan daya tahan dan regenerasi sel yang lebih baik.

3. Makanan dari kedelai

Kedelai adalah salah satu sumber protein terbaik dari dunia nabati. Kandungan proteinnya terbilang sangat lengkap bahkan dalam porsi tertentu bisa mencukupi kebutuhan protein mereka yang menjalankan diet vegan dimana mereka sepenuhnya menghindari asupan hewani.

Selama ini kita mengenal kedelai memang lazim diolah menjadi sejumlah makanan, salah satunya adalah tahu. Kandungan nutrisi dalam tahu terbilang sangat memadai, termasuk di dalamnya kandungan kedelai, serat, sejumlah vitamin, mineral termasuk zat besi. Hanya saja yang tak banyak diketahui bahwa tahu juga bisa berubah menjadi makanan pemicu demensia.

Sebuah riset yang dijurnalkan dalam Journal of Dementia and Geriatric Cognitive Disorder dan melibatkan 700 orang dari beberapa negara pengonsumsi tahu termasuk Indonesia, membuktikan adanya pengaruh pola konsumsi tinggi tahu dengan peningkatan risiko demensia dan penurunan fungsi ingatan.

Beberapa pakar masih meragukan bagaimana tahu bisa memberi pengaruh buruk terhadap otak, tetapi beberapa dugaan muncul seperti tingginya kadar fitoestrogen pada tahu yang diatas tempe bahkan susu kedelai. Fitoestrogen memiliki efek negatif pada regenerasi sel kognitif otak pada wanita usia lanjut. Dugaan lain adalah adanya efek beberapa pelepasan senyawa yang diperoleh dari bakteri yang membentuk tahu.

4. Makanan mengandung pestisida dan herbisida

Dalam pertanian konvensional di Indonesia, kebiasaan untuk memberikan perawatan dengan penyemprotan herbisida dan pestisida memang sudah sangat lazim terjadi. Kadang petani sendiri tidak sepenuhnya memahami kadar aman dari pemberian senyawa kimia yang sebenarnya sangat berbahaya ini hingga melakukan penyemprotan lebih dari seharusnya.

Dalam kadar ringan saja, pestisida dan herbisida sudah cukup mengandung toksin, apalagi bila pemberiannya dilakukan di luar ukuran normal. Dan salah satu sifat dari pestisida dan herbisida ini adalah sebagai neurotoksin, sehingga jelas bisa membahayakan kesehatan otak.

Herbisida dan pestisida ini mempengaruhi seluruh kondisi tubuh manusia yang mengasupnya. Mulai dari menganggu komposisi darah, menganggu sistem penyerapan zat besi dan pembentukan sel darah merah hingga mengganggu liver dan keseimbangan enzim serta hormonal.

Baca juga:  4 Jenis Demensia: Penurunan Fungsi Otak

Masalah ketika semua kondisi ini terjadi, otomatis akan terjadi pula gangguan dengan otak. Sel darah merah yang tidak cukup akan membuat otak kekurangan asupan oksigen, sedang kekacauan sistem hormonal dan enzim menyebabkan gangguan sistem otak kecil.

Ditambah dengan sifatnya sebagai neurotoksin, maka otak yang sudah melemah akan dengan sangat mudah terracuni dan rusak sehingga sangat signifikan memicu kerusakan pada otak.

5. Makanan dengan kadar lemak jenuh tinggi

Makanan dengan kadar lemak tinggi juga bisa menjadi makanan pemicu demensia. Ada banyak alasan kenapa lemak jenuh cenderung berbahaya untuk kesehatan otak. Dan itu sebabnya semakin penting untuk Anda mempertahankan asupan dengan seimbang dengan meniminalisir asupan makanan dengan kadar lemak jenuh tinggi.

Makanan dengan lemak jenuh akan mengganggu sirkulasi darah dengan membentuk plak pada pembuluh darah dan menyebabkan penyumbatan. Bila sirkulasi darah tidak lancar, maka otak akan kekurangan asupan oksigen dan akan membuat fungsi otak tidak maksimal, daya kinerja otak menurun dan sistem regenerasi sel berjalan lambat.

Sedangkan bersamaan dengan itu, dalam makanan dengan kadar lemak jenuh tinggi terdapat senyawa yang menghambat kinerja sejumlah protein essensial yang bekerja menurunkan pembentukan amyloid. Berlebihan dengan lemak jenuh akan menyebabkan amuloid lebih mudah terbentuk pada sel-sel neuron otak.

Demensia merupakan sebuah kondisi dimana kemampuan otak seseorang menurun, berkaitan dengan terbentuknya plak pada area neurotrasmitter yang menyebabkan koneksi sistem saraf pada otak terganggu dan memicu seseorang mengalami penurunan fungsi motorik, ingatan dan kognitif.

Diakui bahwa demensia sendiri merupakan kondisi berkaitan dengan penurunan kualitas kinerja otak, yang kerap pula bersinergi dengan usia. Semakin tua seseorang semakin besar risiko seseorang mengalami demensia. Ini berkaitan dengan menurunnya kemampuan sel otak melakukan regenerasi sehingga kerusakan sel tidak lagi berimbang dengan kemampuan beregenerasi.

Pengaturan pola makan dengan tetap menjaga keseimbangan adalah salah satu kunci utama menghindari penyakit demensia. Hindarilah mengonsumsi makanan secara berlebihan untuk menghindari risikonya, termasuk juga risiko makanan pemicu demensia tersebut di atas.

Advertisement
Alinesia