HOTLINE KONSULTASI HERBAL:
0812-8187-1234 | 0818-029-100-88
Senin-Jumat, pkl. 8.30-16.00 WIB

A+ A A-

Kelasi Jantung, Harapan Baru Penderita Jantung?

Sebagaimana yang Anda ketahui, tingginya biaya pengobatan saat ini terus mendorong masyarakat untuk mencari pengobatan alternatif yang lebih terjangkau. Tidak terkecuali bagi mereka, penderita penyakit jantung. Pernahkah Anda mendengar tentang terapi kelasi jantung?

Cara kerja terapi kelasi yang diketahui berada pada sistem peredaran darah membuat banyak peneliti mencoba menerapkannya sebagai bentuk pengobatan alternatif maupun pelengkap dari metode pengobatan utama dari penyakit yang berhubungan dengan pembuluh darah diantaranya meliputi hipertensi, aterosklerosis (pengerasan arteri), penyakit jantung, dan diabetes.

Faktor lain yang mendukung gagasan tersebut juga berasal dari fakta bahwa terapi kelasi memang terbukti memengaruhi kadar gula darah, kolesterol, tekanan darah, ginjal, dan lever.

Selain itu, fakta bahwa metode pengobatan ini relatif lebih murah dibandingkan metode utama yang digunakan selama ini untuk berbagai penyakit di atas, membuat sejumlah pakar kesehatan dan pasien sendiri tertarik menerapkannya dalam pengobatan.

Namun, tidak semua pakar kesehatan setuju dengan penerapan terapi kelasi jantung. Apa alasannya? Dan apa saja yang menjadikan jenis terapi ini kontroversial? Mari, kita perhatikan beberapa kontroversi seputar penerapan kelasi jantung.

Kontroversi Seputar Penerapan Kelasi Jantung

Untuk memahami teori yang diajukan sebagai dasar penerapan kelasi jantung, Anda perlu mengetahui bahwa pengerasan pembuluh darah (aterosklerosis) dapat dipicu oleh peningkatan dan penumpukan jumlah kalsium dalam darah. Tentu saja, hal ini akan berdampak bagi kesehatan jantung Anda.

Fakta bahwa obat yang digunakan dalam terapi kelasi jantung dapat mengikat mineral kalsium yang menumpuk dalam darah, menjadikannya sebagai salah satu alasan mengapa terapi kelasi diterapkan pada penyakit pembuluh darah dan jantung.

Beberapa orang boleh jadi mendukung penerapan terapi kelasi jantung karena melihat dan percaya pada kisah kesembuhan orang-orang yang menjalaninya. Namun, tidak sedikit juga yang menentangnya, termasuk beberapa otoritas kesehatan terkemuka di Amerika, dimana terapi kelasi jantung pertama kali berkembang, diantaranya meliputi Food and Drug Administration (FDA), American Heart Association (AHA), American College of Physicians; National Heart, Lung, and Blood Institute, National Institutes of Health, American Medical Association (AMA), dan American College of Cardiology.

Selain resiko besar yang mungkin dialami pasien, tidak adanya penelitian dan bukti ilmiah mengenai keamanan serta keefektifan kelasi jantung, menjadi alasan utama mengapa terapi ini tidak dianjurkan oleh berbagai otoritas kesehatan tersebut bagi penderita jantung.

Misalnya, perhatikan salah satu penelitian yang pernah dilakukan mengenai terapi kelasi jantung. Hasil penelitian yang dipublikasikan di Journal of the American Medical Association (JAMA 2002;287:481-486) itu menunjukkan bahwa pasien-pasien yang menerima terapi kelasi selama 27 minggu, tidak lebih baik dibandingkan dengan pasien yang menerima plasebo (cairan tanpa obat).

Meskipun American Heart Association tidak mengetahui alasan mengapa beberapa orang merasa lebih baik setelah menjalani kelasi jantung, mereka yakin bahwa perubahan-perubahan positif bisa jadi dirasakan pasien karena perubahan gaya hidup yang dianjurkan terapis untuk dilakukan pasien seperti perubahan pada menu makanan, menghentikan kebiasaan merokok, dan rutin berolahraga.

Ya, Intinya, berbagai otoritas kesehatan tersebut tidak menganjurkan penerapan terapi kelasi bagi penderita jantung karena tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan keefektifan terapi kelasi jantung. 

American Medical Association (AMA) menyatakan bahwa diperlukan studi ilmiah yang dikontrol secara tepat serta pengawasan yang cermat dari Food and Drug Administration (FDA) untuk mempertanggungjawabkan keefektifan terapi kelasi jantung.

Bagaimana dengan penerapan terapi kelasi jantung di Indonesia? Di Indonesia, terapi kelasi jantung sudah dipraktekkan oleh beberapa klinik dan dilakukan dengan pengawasan dari dokter yang terlatih yang tergabung dalam Perhimpunan Kedokteran Komplementer dan Alternatif Indonesia (PKKAI) .

Wadah tersebut bertujuan mengawasi praktek terapi kelasi karena terapi kelasi jantung masih diklasifikasikan sebagai terapi alternatif atau komplementer untuk penyakit jantung. Nah, bagaimana pandangan Anda sendiri tentang kelasi jantung?

Kelasi Jantung vs Noni Juice

Sebelum Anda memutuskan untuk mengikuti terapi kelasi jantung, penting bagi Anda untuk mempertimbangkan kondisi tubuh Anda mengingat efek samping yang mungkin dapat Anda alami. Untuk mengetahuinya, baca juga artikel Tahukah Anda, Apa Itu Terapi Kelasi?

Ya, sebagaimana yang Anda ketahui, terapi kelasi jantung hanya dapat diterapkan pada orang dengan kondisi fisik dan organ internal yang kuat. Lantas, bagaimana jika kondisi tubuh Anda tidak memenuhi syarat tersebut?

Pada dasarnya, prinsip kerja kelasi jantung dapat disamakan dengan prinsip kerja Noni juice dalam mengatasi penyakit jantung. Baik kelasi jantung maupun Noni juice, bekerja dengan mengikat plak-plak yang menumpuk dalam pembuluh darah untuk kemudian dibuang melalui urin.

Perbedaannya hanya terletak pada reaksi yang akan Anda alami. Jika obat yang digunakan dalam kelasi jantung tidak bersifat selektif dan dapat mengakibatkan tubuh mengalami defisiensi mineral, Noni juice dapat meluruhkan plak-plak penyebab pengerasan pembuluh darah (aterosklerosis) tanpa menyebabkan Anda mengalami efek samping serta resiko akibat defisiensi mineral dalam tubuh.

Untuk mengetahui bagaimana mekanisme Noni juice dalam mengatasi penyakit jantung, silakan kunjungi halaman Pengobatan Penyakit Jantung.

Log In or Register